Selasa, 15 September 2015

Thinking Out of The Box


Oleh Andrie Wongso
Alkisah, ada sebuah perusahaan yang membuat tes kepada calon pegawai yang bertugas menjual di lapangan. Karena yang lolos hingga tahap akhir ada tiga orang,
maka diadakanlah tes terakhir pada mereka. Tesnya cukup unik, yakni menjual sisir ke sebuah biara yang ada di atas bukit. Tes ini ini mengandung “kesulitan” karena seperti diketahui, semua penghuninya adalah orang-orang yang gundul.

Mendapat tugas tersebut, ketiga orang itu pun cukup kaget. Mereka berpikir keras, bagaimana cara menjual pada orang yang tidak butuh? Maka, begitu tugas diberikan, berangkatlah ketiga orang itu ke biara tersebut.

Orang pertama, merasa sangat kesulitan dengan tugas tersebut. Dari awal mendapat tugas tersebut, ia sudah berpikir, hal itu sangat mustahil. Orang-orang gundul sudah pasti tak butuh sisir. Namun, karena telah bertekad untuk mendapat pekerjaan itu, ia pun terus berusaha. Hampir setiap orang di biara ditawarinya sisir. Namun saat ia hampir menyerah oleh rasa lelah dan panas, ada seorang biksu yang iba hatinya. Ia pun membeli satu buah sisir dari si orang pertama. Hari itu, setelah seharian berjuang, ia berhasil menjual satu sisir.

Orang kedua rupanya punya pikiran lain. Dilihatnya, di biara tersebut, selain para biksu, banyak turis yang datang berkunjung. Mengetahui hal tersebut, ia pun fokus menjual sisir itu kepada para pengunjung. Memang, daerah di atas bukit, anginnya cukup kencang. Sehingga, sisir pun dibutuhkan untuk merapikan rambut para turis yang berantakan karena angin. Hari itu, kepada turis-turis tersebut, ia berhasil menjual hingga 20 sisir.

Orang ketiga rupanya berpikir jauh lebih jernih. Ia melihat, biara yang ramai dikunjungi turis itu punya potensi. Maka, ia pun menemui kepala biara dan mengatakan, bahwa ia punya produk sisir yang bisa dijadikan suvenir unik dari biara tersebut. Apalagi jika dibubuhi tanda tangan kepala biara, sebagai tanda keaslian souvenir! Maka sisir tersebut juga bisa jadi barang promosi keberadaan biara. Kepala biara setuju dan ia membeli sisir dari orang ketiga sebanyak 500 buah!

Netter yang Luar Biasa,

Kisah tersebut menggambarkan satu hal yang sama, kondisi yang tak jauh berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Namun sudut pandang yang “lain dari yang lain”—atau out of the box—bisa membuat perbedaan besar. Bagi yang mau membuka diri dan pikirannya, kesempatan akan selalu ada. Dengan mengubah sudut pandang, kita akan menemukan banyak solusi.

Kita memang tak akan bisa mengatur situasi dan kondisi selalu seperti yang kita kehendaki. Tapi, kita bisa mengerahkan segenap kekuatan kita untuk mencari solusi terbaik. Singkatnya,kreativitas otak dan upaya fisik harus menjadi kombinasi kekuatan yang harus selalu bisa kita maksimalkan.

Mari, kita ubah sudut pandang. Jadikan berbagai hambatan dan halangan sebagai “teman” untuk mendatangkan kesempatan. Niscaya, peluang demi peluang akan datang dan kita pun siap untuk menangkapnya untuk mendatangkan kesuksesan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comment yg membangun ya.. Thx