Selasa, 03 Januari 2017

Pada saat angin berhembus ada yang membangun tembok, ada yang membangun kincir angin

WHEN THE WIND OF CHANGE BLOWS, SOME PEOPLE BUILD THE WALL, OTHERS BUILD THE WINDMILLS

(Pada saat angin berhembus ada yang membangun tembok, ada yang membangun kincir angin)

Kehidupan itu selalu diwarnai dengan keseimbangan antara dua kondisi opposite, siang dan malam, kemarau dan hujan, panas dan dingin, kesedihan dan kebahagiaan, tantangan dan peluang.
Dan tentunya kita tidak bisa mengontrol kapankah musibah, kesedihan atau challenges akan datang di dalam hidup kita.
Yang kita bisa kontrol adalah bagaimana kita bereaksi menghadapi apa yang menimpa hidup kita.
Sayangnya banyak yang tidak bisa mengontrol dua-duanya. Jadi mereka hanya bisa meratapi nasib pada saat musibah datang. Dan menyerah pada keadaan.

Padahal seharusnya yang dilakukan adalah mengubah tantangan menjadi peluang, mengubah challenge menjadi opportunity, dan mengubah musibah menjadi ujian atau kesempatan.
Sulit? Pasti.
Mungkin? Sangat mungkin.
Apakah harus menyerah? Jangan pernah!
Kita simak kisah perjuangan kehidupan di bawah ini ....

Sebut saja namanya Shinta (bukan nama sebenarnya).
Pada saat lulus dari ITB, dia lebih suka berfokus menjadi ibu rumah tangga mendorong kemajuan karier dan pendidikan suami dan kedua anak lelakinya.
Shinta fikir semua berjalan dengan lancar dan hidupnya seperti sungai yang mengalir tenang, yang diimpikannya.
Suddenly .... semuanya tiba tiba berganti.
Suaminya didiagnosa gagal ginjal, harus cuci darah secara regular, dengan biaya ratusan juta.
Shinta tidak tahu apa yang harus dikerjakan.
Apalagi jumlah tabungan tentunya tidak akan pernah mencukupi biaya ratusan juta yang dia perlukan untuk pengobatan suaminya.
Shinta berada di titik terendah kehidupannya.
Anda pikir Shinta akan putus asa?
You think she will give up?
Nooooooo.
You don't know her yet.

Sebagai sarjana Astronomi, Shinta memang tidak pernah bekerja sesuai dengan bidang yang dipelajarinya.
Tetapi sejak kuliah dia sering mengarang bahkan menterjemahkan buku buku berbahasa Inggris.
Dan pada saat keadaan memaksa, Shinta pun mengubah jalan hidup dan prioritasnya. Dia pun semakin menggiatkan kegiatan menulisnya, termasuk menulis buku tentang perjuangannya untuk mendampingi dan mengobati suaminya di kala sakit.
Kemudian Shinta pun mulai bekerja kantoran di sebuah perusahaan, menimba kariernya, bekerja keras, menjadi tulang punggung keluarga sampai akhirnya dipercaya perusahaannya menjadi CEO.
Wow ! Wow! Wow!

Banyak wanita yang setelah kuliah, memilih bekerja kantoran, mengembangkan karier, tapi banyak yang tidak akan pernah menjadi CEO.
Shinta yang baru memikirkan untuk memulai kariernya setelah suaminya sakit keras (karena harus menjadi tulang punggung keluarga), akhirnya justru dengan kerja keras dan tekadnya malah menjadi CEO.

Apa yang kita bisa pelajari dari Shinta?
Bahwa masalah atau musibah itu menimpa kita suatu saat? Kita sama sekali tidak bisa mengontrolnya.
Sama sebenarnya seperti sebuah perubahan.
Perubahan itu tidak bisa dikontrol.
Yang kita bisa kontrol adalah sikap kita menghadapinya.
Ada pepatah yang mengatakan, pada saat kita berlayar seringkali kita tidak bisa mengontrol angin yang datang.
Tapi kita bisa mengontrol layar perahu kita (seberapa tinggi dan arahnya menghadap ke mana).
Di sinilah terjadi the real test of a winner, apakah anda terus berjuang menghadapi krisis itu dan berakhir sebagai pemenang?
Atau apakah anda menyerah, dan meratapi nasib dan berakhir sebagai pecundang?
The choice is yours.
Ada pepatah lain yang mengatakan ...
pada saat angin kencang berhembus , ada yang sibuk membuat tembok (dan bertahan melawan perubahan), ada yang sibuk membuat kincir angin (menggunakan perubahan sebagai kesempatan untuk melakukan perbaikan).
Kalau anda memutuskan untuk membuat tembok (dan bertahan melawan perubahan), percayalah tidak akan ada tembok yang kuat melawan perubahan. Cepat atau lambat tembok anda akan runtuh juga.
Jadi satu-satunya alternative yang anda bisa lakukan adalah membangun kincir angin pada saat angin itu datang.
Kincir angin tidak dibangun untuk membendung atau melawan angin.
Kincir angin dibangun untuk menggunakan angin yang datang sebagai opportunity untuk melakukan continuous improvement. Yang keren adalah, semakin besar anginnya , semakin besar impact yang dihasilkan oleh kincir angin.
Ternyata itu yang seharusnya kita lakukan pada saat perubahan itu terjadi.
Bukannya meratapi atau melawan, tapi justru menggunakan perubahan itu sebagai kesempatan bagi kita.
Seperti halnya Shinta yang justru setelah mengalami musibah itu justru berjuang keras, mengembangkan kariernya sampai akhirnya malah menjadi CEO!

How about you?
What do you do during the change?
Meratap? Melawan? atau menggunakan perubahan sebagai kesempatan untuk melakukan perbaikan?
The choice is yours!

Apa yang bisa kita lakukan?

1) BE PREPARED, HAVE A CONTANGENCY PLAN

Apapun yang anda lakukan, bersiaplah!
Kalau sekarang lagi kemarau, kita tahu bahwa hujan akan datang. Kalau sekarang laut lagi tenang, kita tahu bahwa badai akan datang. Whatever you do, wherever you are, be prepared! What if our strength is not relevant? What if we don't know what we don't know? What if whetever we knew were wrong?
Have a plan B. Have a contingency plan!
So you can always be ready, no matter what happen.

2) WHEN THINGS HAPPEN, FOCUS ON WHAT YOU CAN DO
Pada saat badai benar benar datang, pada saat perubahan tiba, jangan meratap, jangan melawan. Fokus pada apa yang bisa anda lakukan, dan jangan memikirkan sesuatu yang hanya bisa anda cemaskan.

3) WHATEVER HAPPEN, DONT LET THEM DISTRACT YOU FROM ACHIEVING YOUR PLAN
You just need a different route to still achieve the same objectives

Ingat, anda punya tujuan hidup, cita-cita, atau mimpi yang ingin anda raih.
Anda harus tetap mencapai cita cita itu.
Jangan membiarkan perubahan itu menghalangi anda untuk mencapai cita cita anda.
Perubahan itu hanya membuat anda harus melalui rute yang berbeda, yang siapa tahu, ternyata malah lebih cepat dari rute yang tadinya anda rencanakan.

4) SURROUND YOURSELF WITH POSITIVE ENERGY from Family and Friends

Dunia berubah begitu cepat. Kadang-kadang itu bisa
membuat mental anda lelah, capek dan stress.
Tinggalkan negative mentality, jauhi mereka.
Jauhi teman teman anda yang hanya menimbulkan suasana negative ke anda. Delete WA group anda yang negative. Un-friend teman teman anda di Facebook yang tidak membawa pengaruh positive kepada anda.
Dekati suasana, lingkungan, keluarga, teman, group yang membawa pengaruh positive kepada anda.
You are the average of 5 people that you meet more often.

5) CONTINUE TO SHARPEN THE SAW
Terusknlah mengasah kompetensi anda karena kompetensi anda akan menjadi andalan anda untuk stay competitive di masa depan.

Ingat baik baik, tidak ada gunanya melawan sebuah perubahan (dan membangun tembok), sebaiknya anda menggunakan perubahan sebagai opportunity untuk melakukan perbaikan, dan bangunlah kincir angin pada saat angin besar datang menerpa!

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comment yg membangun ya.. Thx